Unsur-Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Unsur-Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Unsur-Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Unsur-Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
Unsur-Unsur Kebudayaan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara
  1.  Sistem Religi

    Sistem kepercayaan dalam masyarakat Indonesia diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini terus berkembang pada masa bercocok tanam hingga masa perundagian. Selain penghormatan terhadap roh nenek moyang, ada juga kepercayaan terhadap kekuatan alam. Kepercayaan ini kiranya turut ditentukan oleh pengalaman dan ketergantungan mereka terhadap alam. Masyarakat Praaksara menggunakan Lima komponen dari sistem religi,antara lain sebagai berikut;

    1) Emosi keagamaan
    Merupakan pergerakan Keinginan manusia untuk melakukan sesuatu, terutama  untuk hal yang dianggap sesuai dengan keyakinandan kebenaran yang diyakini mutlak.
    2) Sistem keyakinan
    Keyakinan manusia merupakan nilai-nilai dan konsep tentang sifat-sifat tuhan, alam gaib, serta kekuatan-kekuatan yang melebihi manusia dan dianggap kebenaran yang mutlak.
    3) Sistem ritus dan upacara
    Merupakan tata kelakuan / sejumlah tahapan yang harus dilakukan manusia untuk mengadakan hubungan dengan yang diyakini oleh manusia sebagai kekuatan yang mengatur dan menentukan hidup manusia.
    4) Umat agama
    Adalah  sekelompok orang yang menyakini dan melaksanakan ajaran –ajaran agamanya.
    5) Peralatan ritus dan upacara
    Berupa alat-alat utama yang dipakai pada ritus dan upacara serta menjadi simbol dan konsep religi yang dilambangkanya.

    b. Sistem Kemasyarakatan

    Ketika manusia hidup bercocok tanam dan jumlahnya bertambah besar, sistem kemasyarakatan mulai tumbuh.Gotong-royong dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam menjalani kegiatan hidup, seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dan lain-lain.
    Demi menjaga hidup bersama yang harmonis, manusia menyadari perlunya aturan-aturan yang perlu disepakati bersama. Agar aturan ini ditaati, ditentukan seorang pemimpin yang bertugas menjamin terlaksananya kepentingan bersama.
    Sistem kemasyarakatan terus berkembang khususnya pada masa perundagian. Pada masa ini sistem kemasyarakatan menjadi lebih kompleks. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Uniknya, tugas yang ditangani membuat masing-masing kelompok memiliki aturan sendiri. Meskipun demikian, tetap ada aturan umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok.

    c. Pertanian

    Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman neolitikum, yakni sejak manusia menetap secara permanen (sedenter). Perkiraan ini sangat logis mengingat proses bersawah yang cukup lama mengharuskan manusia menetap di suatu tempat dengan waktu relatif lama. Kehidupan gotong-royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini.
    Semangat gotong-royong dalam sistem persawahan terlihat dalam tata pengaturan air dan tanggul. Pada masa perundagian, kemampuan bersawah semakin berkembang mengingat sudah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.

    d. Kemampuan Berlayar

    Kemampuan berlayar sudah dimiliki cukup lama oleh bangsa Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh cara kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia. Mereka harus menggunakan perahu untuk sampai ke Indonesia.
    Kemampuan berlayar ini terus berkembang di tanah yang baru, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau. Kondisi seperti ini mengharuskan orang menggunakan perahu untuk mencapai pulau lain.
    Perahu bercadik merupakan model yang paling dikenal pada zaman pengaruh Hindu-Buddha.Perahu bercadik dibuat dari sebuah batang pohon besar yang ditebang bersama, kemudian dikupas kulitnya. Kemudian kayu tersebut dibuat rongga dengan cara pembakaran sedikit sedikit, lalu rongga dan tepian perahu dihaluskan dengan beliung dan akhirnya diberi cadik di satu atau kedua sisinya.
    Kemampuan berlayar ini selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Itulah sebabnya sejak awal Masehi bangsa Indonesia sudah mulai berkiprah dalam jalur perdagangan internasional.

  1. Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
    Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Juga mengenal ilmu astronomi (ilmu perbintangan) sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, mereka telah mengetahui secara teratur waktu bercocok tanam, panen, atau masa yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.
    Sejak masa prasejarah, masyarakat Indonesia telah mengenal teknik pengecoran logam. Berbagai peralatan rumah tangga, peralatan untuk mengerjakan sawah atau berladang, peralatan berburu dan lain-lain dikerjakan dengan pengecoran logam.
    Masyarakat juga telah mengenal teknik pembuatan perahu bercadik. Pembuatan perahu bercadik ini sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh lautan. Perahu bercadik itu dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan sarana perdagangan.

    f. Sistem Bahasa

    Bahasa merupakan alat komunikasi dalam bentuk perlambangan bunyi yang mempunyai makna yang dipahami oleh pemakai bahasa yang sama. Setiap bangsa melahirkan bahasanya masing-masing. Bangsa indonesia masa praaksara mempunyai satu rumpun bahasa yaitu rumpun bahasa Austronesia. Bahasa dalam masyarakat praaksara berfungsi sebagai alat komunikasi, sosial, dan sebagainya.
    Daerah Indonesia membentang sepertujuh dari lingkaran ekuator dan terbagi oleh lautan dengan beribu pulau, juga terdapat beribu lembah dan daratan. Keadaan seperti ini menyebabkan sejak semula mereka memiliki sejumlah bahasa dan dialek. Bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia itu termasuk dalam satu rumpun bahasa, yaitu rumpun bahasa Melayu Austronesia atau bahasa Melayu kepulauan Selatan.
    Perkembangan bahasa Melayu terlihat dengan jelas pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Setelah mendapat pengaruh dari bahasa Sansekerta, bahasa Melayu menjadi bahasa resmi atau bahasa prasasti Kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Melayu berhasil menjadi bahasa pergaulan dalam perdagangan atau menjadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, bahasa Melayu menjadi lingua franca di Nusantara atau sebagian wilayah Asia Tenggara.

    g. Organisasi Sosial

    Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa kelompok masyarakatnya. Kelompok masyarakat itu lebih dikenal dengan sebutan suku. Hubungan masyarakat dalam suatu kelompok sukunya sangat erat. Pola kerjasama dalam hidup bergotong-royong dalam suatu kelompok suku sudah terjalin dengan baik.
    1) Kesatuan keturunan ( genealogis )
    Kesatuan ketururan terbentuk karena terikat ikatan darah, antara lain keluaga inti, keluarga besar, dan kelompok keturunan.
    2) Kesatuan kedaerahan
    Sebuah kesatuan yang terbentuk karena ada ikatan yang sama karena tinggal di satu daerah yang sama.
    3) Kesatuan sosial religius
    Terbentuk, karena ada ikatan keagamaan yang sama
    4) Kesatuan sosial yang bersifat paguyuban  / gemeinschaft (dari bahasa jerman)
    Terbentuk, karena ada kesetiakawanan sosial yang kompak dan bersifat kekeluargaan
    5) Kesatuan sosial yang bersifat patembayan / gesellschaft
    Kesatuaa sosial patembayan terbentuk karena adanya kepentingan yang bersifat meminta balas jasa / pamrih.

    h. Sistem Mata Pencaharian ( Ekonomi  )

    Masyarakat pada setiap daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Untuk itu, mereka menjalin hubungan perdagangan dengan daerah-daerah lainnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah sistem barter, yaitu pertukaran barang dengan barang.

    i. Kesenian

    Masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan, telah mengenal sistem kesenian , keinginan untuk mengekspresikan seni atau keindahan ketika manusia mulai hidup menetap di gua-gua. Ekspresi seni di tuangkan dalam bentuk seni lukisan dengan media dinding-dinding gua atau permukaan batu.
    Ketika manusia mulai hidup menetap, ekspresi seni variannya bertambah. Kegiatan seni lukis di indonesia di perkirakan ada sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Bukti mengenai hal tersebut ditemukan di  Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua;

  • Cap-cap tangan di dinding gua di Sulawesi Selatan (dengan latar cap merah dan seekor babirusa yang sedang melompat dengan panah menancap dijantungnya.
  • Di Maluku ditemukan Lukisan dinding Gua dan batu karang berwarna merah dan putih yang wujudnya berupa cap tangan, kadal, manusia membawa perisai berwarna merah, serta lukisan burung dan perahu berwarna putih.
  • Di Papua ditemukan lukisan dinding dan karang. Bentuknya beraneka ragam, seperti cap tangan, orang, ikan, perahu, binatang melata, dan cap Kaki.

 

Baca Artikel Lainnya: