Tokoh-Tokoh Yang Menyediakan Waktunya Untuk Membincangkan Kebatinan

Tokoh-Tokoh Yang Menyediakan Waktunya Untuk Membincangkan Kebatinan

Tokoh-Tokoh Yang Menyediakan Waktunya Untuk Membincangkan Kebatinan

Tokoh-Tokoh Yang Menyediakan Waktunya Untuk Membincangkan Kebatinan
Tokoh-Tokoh Yang Menyediakan Waktunya Untuk Membincangkan Kebatinan

Hasan Al-Bashri

Hasan Al-Bashri dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk membincangkan ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha mensucikan jiwa. Aajaran tenatang kerohanian senantiasa didasarkan pada sunah Nabi. Pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri adalah seabgai berikit, “takut” (khauf) dan pengharapan (raja) tidak akan dirundung kemurahan dan keluhan, tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah, pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran bagi setiap orang untuk selalu bersedih hatidan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Ajaran hasan Al-Bashri yang menekankan kepada umat islam agar dapat menumbuhkan sikap toleransi dan berkepribadian yang luhur.
a. Perasaan takut yang menyebapkan hatinmu tentram lebih baik dari pada rasa tentram yang menimbulkan rasa takut.
b. Dunia adalah negeri tempat beramal
c. Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengejarnya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita bermaksud uintuk tidak menguilangi lagi.
d. Dunia ini adlah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.
e. Oran gberiman akan senantiasa berduka-cita pada pagi dan sore hari karena diantara dua perasaan takut.
f. Banyak duka cita didunia memperteguh semangat amal saleh.
Sikap Hasan Al-Bashri senada dengan apa yang di sabdakan Nabi yang berbunyi;
“Orang uyang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan adalah laksana orang duduk dibawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya.”

Al-Qusyairi

Al-Qusyairi merupakan salah seorang tokoh sufi yang mampu mengopromokan sayariat dengan hakekat, al-Qusyairi cenderung memengbalikan tasawuf keatas landasan doktrin Alus Sunnah, sebagai pernyataanya adalah sebagai berikut :
Ketahuilah, Para tokho aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga doktrin mereka terpelihara dari penyimpangan. Selain itu mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun Ahlus Sunnah, yang taktertandingan dan takmengenal macet. Mereka pun tahu hak yang lama, dan bisa mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Karena itu tokoh aliran ini, Al- Juanaid mengatakan bahwa tauhid adalahpemisah hal yang lama dengan hal yang baru.

Landasan doktrin-doktrin mereka pun didasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Abu Muhammad Al-Jariri mengatakan bahwa barang siapa tidak mendasarkan ilmu tauhid p[ada salah satu pokjoknya, niscaya kakinya tergelincir kedalam jurang kehancurannya. Ia mengatakan bahwa kesehatan batin, dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunah, lebih penting dibanding dengan pakaian lahiriah.

Al-Ghozali

Menurut Al-Ghozalijalan tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambata-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu lepas dari segala sesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah. Ia berpandapat bahwa sosok sufi menempuh jalan kepada Allah, perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, jalan mereka adalah yang paling benar, dan moral mereka adalah yang paling bersih.
Al-Ghozali menyodorkan faham baru tentang ma’rifat, yakni pendekatan diri kepada Allah SWT (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya. Jalan ma’rifat ialah perpaduan ilmu dan amal sedangkan buahnya adalah moralitas. Makrifat menurut Al-Ghozali diawali dalam bentuk latihan jiwa, lalu diteruskan dengan menempuh fase-fase pencapaian rohani dalam tingkatan (maqamat) dan keadaan (ahwal).

Kesimpulan

Didalam diri manusia meiliki sifat dualisme yaitu material dan imaterial, sifat materialisme adalah manusia cenderung ingin hidup keberadaanya didunia adalah kekal dan dapt mencapai apa yang dia ianginkan. Berbeda dengan sifat imaterial yang cenderung menginginkan keselamatan di kehidupan yang hakiki yakni kehidupan akhirat. Tasawuf adalah ajaran yang bertujuan untuk mengarahkan dan mengingatkan umat Islam dari kesesatan karena terlalu asyik dengan kehidupan dunia. mengajarkan tentang ilmu ketuhanan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/