Sosiologi Auguste Comte (1798-18530

Sosiologi Auguste Comte (1798-18530

Auguste Comte yang pertama-tama memakai istilah : sosiologi adalah orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dengan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dia menyusun suatu system matika dari filsafat sejarah, dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda-beda. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan entelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Petama dinamakan tahap teologis yaitu suatu tahap dimana mana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang di kendalikan roh dewa-dewa atau tuhan yang maha kuasa. Tahap kedua yang merupakan prkembangan dari perkembangan dari tahap pertama, adalah tahap mrtafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekutan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat di ungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi, oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.

Gagasan tentang adanya ketiga tahap tersebut, walaupun merupakan suatu fiksi, akan tetapi hal itu memberikan penerangan tehadap pikiran manusia, serta  secara psikologis merupakan suatu perkembangan yang penting. Ketiga tahap tadi dapat memenuhi fikiran manusia pada saat yang bersamaan, di mana kadang-kadang tiumbul pertentangan-pertentangan. Mengkaitkan industrialisasi dengan tahap tahap ketiga dari perkembangan fikiran manusia. Secara logis, maka dalam masa industri tersebut akan terjadi perdamaian yang kekal. Apakah sebenarnya yang di maksudkan oleh comte dengan ilmu pengetahuan positif, dan dimanakah letak sosiologisnya?

hal yang menonjol dariu sistematisnya comte adalah penilainnya terhadap sosiologi, yang merupakan ilmu pengetahuaan yang paliung kompleks, dan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang akan brkembang dengan pesat sekali. Sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dari gejala sosial. comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dengan sosilogi dinamis.

Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis, yang menjadi dasar dari adanya masyarakat. Cita-cita dasar yang menjadi latar belakang dari sosiolgi statis adalah, bahwa semua gejala sosial saling berkaitan, yang berarti bahwa adalah percuma untuk mempelajari salah satu gejala sosial secara tersendiri.sosiologi dinamis merupakan teori tentang perkembangan, dalam arti banggunan. Ilmu pengetahuan ini menggamabarkan cara-cara pokok dalam mana perkembangan manusia terjadi, dari tingkat intelleigensia yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka dinamika menyangkut masyasrakat untuk menunjukan adanya perkembangan.

Metode-metode dalam Sosiologi

Setelah mendapatkan gambaran dan pokok-pokok tentang ruang lingkup sosiologi berserta hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya dan teori-teorinya, perlu dijelaskan cara-cara sosiologi mempelajari obyeknya, yaitu masyarakat. Pada dasarnya terdapat dua jenis cara kerja atau metode, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata didalam masyarakat. Didalam metode kualitatif termasuk metode historis dan metode komparatif yang keduanya dikombinasikan menjadi historis komparatif. Metode historis mempergunakan analisa atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

Metode komparatif mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya, untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan serta sebab-sebabnya. Perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk mengenai perikelakuan masyarakat pada masa silam dan masa sekarang.

Metode kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang ditelitinya dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks, table-tabel dan formula-formula yang semuanya itu sedikit banyaknya mempergunakan ilmu pasti atau matematika. Metode kuantitatif adalah metode statistic yang bertujuan menelaah gejala-gejala sosial secara matematis.

Akhirnya sosiologi juga sering  mempergunakan metode functionalism. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa metode functionalism bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat.

Sumber: http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/07/14/jasa-penulis-artikel/