Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan

Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan

Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan

Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan
Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan

Pembagian seragam gratis bagi siswa baru sekolah negeri tidak dapat terlaksana dalam waktu dekat. Baik jenjang pendidikan dasar (dikdas) maupun pendidikan menengah (dikmen). Penggunaan anggaran menjadi hambatan kebijakan tersebut.

Sejauh ini Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik masih melakukan proses lelang atas pengadaan seragam siswa baru. Jumlah anggaran sekitar Rp 5 miliar. ’’Tidak bisa cepat karena masih proses lelang,’’ kata Kasi Pembelajaran SMP Sugeng Istanto yang mendampingi Kabid Pendidikan Dasar Dispendik Gresik Nur Maslichah, Senin (17/7).
Siswa Baru Nantikan Seragam Gratis, Hari Pertama MPLS tanpa Perpeloncoan
HARUS CERIA: Moh.Qosim memberikan semangat kepada siswa SD Muhammadiyah Manyar pada hari pertama masuk sekolah. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Anggaran itu dialokasikan untuk pengadaan empat setel pakaian bagi setiap siswa SDN dan SMPN. SDN mendapatkan seragam merah-putih, Pramuka, batik, dan olahraga. Para siswa SMPN memperoleh seragam putih-biru, Pramuka, batik, dan olahraga.

Sugeng belum bisa memastikan waktu tuntasnya proses lelang. Dia memperkirakan proses lelang memakan waktu sampai dua bulan. Dia pun mempersilakan wali murid menunggu atau membeli sendiri seragam sekolah. Seragam bisa dibeli melalui koperasi sekolah atau tempat lain. ’’Bergantung wali murid. Atau, menunggu pembagian seragam juga tidak apa-apa. Untuk sementara mengenakan seragam sekolah yang lama,’’ ujarnya.

Begitu pula jenjang SMAN/SMKN. Kepala Cabang Dispendik Wilayah Gresik Puji Hastuti menuturkan bahwa seragam belum dibagikan dalam waktu dekat. Seragam dibagi pada Agustus nanti. Siswa baru SMAN/SMKN bakal menerima dua setel seragam. Yaitu, putih-abu-abu dan Pramuka. ’’Pengadaannya dari provinsi (Dispendik Jatim, Red),’’ jelas Puji.

Dia menjelaskan, seragam gratis tidak dibagikan melalui cabang dispendik kabupaten/kota. Namun, Dispendik Jatim yang langsung mendistribusikan seragam ke setiap SMAN/SMKN. ’’Kami hanya mendata jumlah siswa baru,’’ terangnya.

Meski ada seragam gratis, sebagian wali murid justru sudah membayar uang seragam

ke sejumlah sekolah. Salah satunya adalah SMAN 1 Kebomas. Di sekolah tersebut, wali murid membayar Rp 1,7 juta per orang untuk membeli empat seragam. Yakni, putih-abu-abu, Pramuka, batik, dan olahraga. ’’Masih berupa kain. Harus jahit sendiri,’’ ucap salah seorang wali murid.

Sementara itu, masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) berlangsung lancar. MPLS berjalan tanpa laporan miring. Tidak ada aduan dari wali murid.

Di jenjang SD, misalnya. Wakil Bupati (Wabup) Moh. Qosim menjadi pemateri MPLS di SD Muhammadiyah Manyar. Para murid baru terlihat antusias. Bahkan, para orang tuanya ikut memenuhi halaman sekolah. Mereka membentuk barisan panjang, lalu bersalaman dengan seluruh dewan guru. ’’Pendidikan ke anak-anak harus diisi dengan keceriaan,’’ tuturnya.

Tambah Dua Siswa Baru

Keceriaan masuk sekolah pada hari pertama juga dirasakan pelajar di Pulau Bawean.

Meski jumlah siswa baru di berapa sekolah dasar negeri bisa dihitung dengan jari.

Di antaranya, dua siswa baru di SDN 2 Pekalongan dan tujuh siswa baru di SDN 2 Teluk Jatidawang. ’’Semuanya (2 siswa) masuk,’’ ujar Kepala SDN 2 Pekalongan Ahmad Firdaus ketika dihubungi Senin (17/7).

Kehadiran dua siswa baru itu menambah keriuhan di sekolah yang berada di atas Bukit Thukal tersebut. ’’Total siswa kelas I–VI saat ini berjumlah 12 anak,’’ tambahnya.

Perinciannya, siswa kelas I dan IV masing-masing dua siswa, kelas II dan III

masing-masing 3 siswa, serta kelas V dan VI masing-masing satu siswa. Sebagaimana SD negeri lainnya, mereka harus mengikuti upacara bendera. Setelah itu, siswa mendapatkan pembelajaran di kelas.

Yang membedakan di awal tahun pelajaran 2017–2018, tambah Firdaus, ada empat mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta yang ikut memberikan pembelajaran kepada siswa. ’’Selama dua minggu empat mahasiswa itu akan ikut mengajar di sekolah. Mereka ini sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN),’’ tuturnya.

Sementara itu, tujuh siswa baru di SDN 2 Teluk Jatidawang mengikuti aktivitas menjaga kebersihan lingkungan. ’’Sekarang jumlah peserta didik keseluruhan 49 siswa,’’ kata Kepala SDN 2 Teluk Jatidawang Mustain.

 

Baca Juga :