Peter Abaelardus

Peter Abaelardus ( 1079-1180 )

Ia di lahirkan di Le Pallet, Perancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangan nya sangat tajam. Sehingga sering kali bertengkar dengan para ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang Konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan kekuatan kekuatan iman. Iman harus mau di dahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah di setujui atau dapat di terima oleh akal

Berbeda dengan Anselmus, yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada di luar iman ( di luar kepercayaan ). Karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai metode dialiktika yang tanpa ragu-ragu di tunjukkan dalam teologi yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan seperti ajaran trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan

Ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang universalia. Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran.

Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro-contra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12). Problem yang hangat didiskusikan pada masa ini adalah masalah  universalia dengan konfrontasi antara “Realisme” dan “Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa, pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.

Pengaruh alam pemikiran dari Arab mempunyai peranan penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Pada tahun 800-1200, kebudayaan Islam berhasil memelihara warisan karya-karya para filsuf dan ilmuwan zaman Yunani Kuno. Kaum intelektual dan kalangan kerajaan Islam menerjemahkan karya-karya itu dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Maka, pada para pengikut Islam mendatangi Eropa (melalui Spanyol dan pulau Sisilia) terjemahan karya-karya filsuf Yunani itu, terutama karya-karya Aristoteles sampai ke dunia Barat. Dan salah seorang pemikir Islam adalah Muhammad Ibn Rushd (1126-1198). Namun jauh sebelum Ibn Rushd, seorang filsuf Islam bernama Ibn Sina (980-1037) berusaha membuat suatu sintesis antara aliran neo-Platonisme dan Aristotelianisme.

Dengan demikian, pada gilirannya nanti terbukalah kesempatan bagi para pemikir kristiani Abad Pertengahan untuk mempelajari filsafat Yunani secara lebih lengkap dan lebih menyeluruh daripada sebelumnya. Hal ini semakin  didukung dengan adanya biara-biara yang antara lain memeng berfungsi menerjemahkan, menyalin, dan memelihara karya sastra.

  1. Periode puncak perkembangan skolastik (1200-1300)

Masa ini merupakan kejayaan Skolastik yang belangsung dari tahun 1200-1300, dan masa ini juga di sebut masa berbunga. Karena pada itu ditandai dg munculnya universitas-universitas atau ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan

baca juga :