Penjelasan (Syarah Hadist)

Penjelasan (Syarah Hadist)

Penjelasan (Syarah Hadist)

Penjelasan (Syarah Hadist)

            Hadist di atas menjelaskan bagaimana Nabi mengajarkan shalat kepada seorang sahabat yang belum bisa melakukan dengan benar. Begitu beliau masuk duduk di dalam masjid ada seorang laki-laki-dalam satu riwayat Khalat bin Rafi’bin kakek Ali bin Yahya sanad Hadist-masuk ke masjid melakukan shalat tahiyyatul-Masjid.

Metode pengajaran shalat yang dilakukan Nabi pada Hadist di atas dapat disebut metode drill, exsperimen, dan demonstrasi. Karena seorang laki-laki tersebut memperlihatkan bagaimana cara shalat yang benar dan berusaha melaksanakanya secara benar, sehingga diulang-ulang sampai tiga kali. Kemungkinan ia sudah pernah belajar dari orang lain tetapi belum memenuhi sasaran yang benar. Kemampuanya terbatas pelaksanaan shalatnya kurang benar kemudian diluruskan dan didemonstrasikan Nabi SAW begini cara shalat yang benar. Metode exsperimen di sini guru yakni Nabi SAW bersama seorang sahabat tersebut sebagai muridnya mengajarkan cara shalat yang benar sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui. Ia dicoba melakukan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuanya, setelah tidak ada disebut inkuiri (inquiri) arti harfiahnya adalah pertanyaan pemeriksaan dan penyelidikan. Maksudnya rangkaian pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dan satu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009:196).

Dalam pelaksanaan pendidikan agama banyak digunakan metode demonstrasi dan exsperimen, terutama dalam menerangkan atau menjelaskan tentang cara mengerjakan (kaifiiat) suatu ibadah misalnya : berwudhu, shalat, dan haji. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan shalat dengan cara demonstrasi, hal ini terganbar pada Hadist Rasulullah:

وَصَلُّو ا كَمَا رَ ٲَ يْتُمثو نِي أُ صَلّيِ

Artinya  :”Shalatlah kamu sebagaimana aku melaksanakan shalat. ”(HR.al-Bukhari).

Hadist ini perintah kepada kita untuk mendemonstrasikan shalat sebagaimana Nabi melaksanakanya tidak hanya mengetahui teorinya saja akan tetapi lebih pragmatis.

Pelajaran yang dapat dipetik dari Hadis ini ialah, (a) bahwasanya ibadah itu dikerjakan berdasarkan ilmu, tanpa ilmu ibadah tidaklah sah, (b) Pengajaran ibadah seperti shalat dengan menggunakan metode riil, eksperimen dan demonstrasi lebih baik karena guru langsung melihat kesalahan dan kebenaran suatu ibadah yang dikerjakan oleh murid, (c) murid diberikan kesempatan untuk mengevaluasi diri, mengoreksi diri dan berusaha memperbaiki diri dalam melakukan pembelajaran shalat, (d) shalat tahiyyatul masjid didahulukan daripada memberi salam dengan sesamanya, karena hak Allah didahulukan dari pada hak manusia, (e) mengulang-ulang salam ketika bertemu disunnahkan sekalipun pemisahnya sebentar.

  1. Metode Asistensi

عن ربعي قال حدثنا رجل من بني عامر أنه استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم وهو في بيت فقال ألج فقال النبي صلى الله عليه وسلم لخادمه اخرج إلى هذا فعلمه إلاستئذان فقال له قل السلام عليكم أأدخل فسمعه الرجل فقال اسلام عليكم أأدخل فأذن له النبي صلى الله عليه وسلم فدخل (أخر جه أبو داود).

Dari Rib’y bin Hirasy berkata: “ seseorang dari bani Amir menceritakan kepada kami bahwa ia minta izin untuk masuk ke rumah Nabi SAW, sedangkan beliau berada dalam rumah. Orang itu mengucapkan “bolehkah saya masuk?” kemudian Rasulullah SAW bersabda pada pelayannya:”keluarlah dan ajarkan kepada orang itu tentang tata cara minta izin. Katakan kepadanya:” Ucapkanlah assalamu’alaikum bolehkah saya masuk?”Orang itu mendengar apa yang disabdakan Beliau, maka ia mengucapakan:”Assalamu’alaikum bolehkah saya masuk?” kemudian Nabi SAW memberi izin kepadanya dan ia pun masuk”.(HR. Abu Daud).

baca juga :