Pengertian Akal

Table of Contents

Pengertian Akal

Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘aql (العقل), yang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan kata al-wahy (الوحى), tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluh (عقلوه) dalam 1 ayat, ta’qilun (تعقلون) 24 ayat, na’qil (نعقل) 1 ayat, ya’qiluha (يعقلها) 1 ayat dan ya’qilun (يعقلون) 22 ayat. Kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Kalau kita lihat kamus-kamus Arab, akan kita jumpai kata ‘aqala  berarti mengikat dan menahan. Maka tali pengikat serban, terkadang berwarna hitam dan terkadang berwarna emas, yang dipakai di Arab Saudi dll, disebut ‘iqal (عقال), dan menahan orang di dalam penjara disebut i’taqala (اعتقل) dan tempat tahanan mu’taqal (معتقل).[3]

Akal secara lughawi memiliki banyak makna, sehingga kata al ‘aql sering disebut sebagai lafazh musytarak, yakni kata yang memiliki banyak makna. Dalam kamus bahasa Arab Al-munjid Fii Al-lughah Wa’al A’lam, dijelaskan bahwa ‘aqala memiliki makna adraka (mencapai, mengetahui), fahima (memahami), tadarabba wa tafakkara (merenung dan berfikir). Kata al-‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti “nurun nuhaniyyun bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhu bi al-hawas”, yaitu cahaya ruhani yang dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indera.  Al-‘aql juga diartikan al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.

Menurut pemahaman Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyah digunakan dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence), yang dalam istilah psikologi modern disebut  kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity). Dengan demikian, orang berakal adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah, memecahkan problem yang dihadapi dan dapat melepaskan diri dari bahaya yang mengancam. Lebih lanjut menurutnya, kata ‘aql  mengalami perubahan arti setelah masuk ke dalam filsafat Islam. Hal ini terjadi disebabkan pengaruh filsafat Yunani  yang masuk dalam pemikiran Islam, yang mengartikan ‘aql  sama dengan Nous yang mengandung arti daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Pemahaman dan pemikiran tidak lagi melalui di dada (Al-qalb) akan tetapi melalui Al-aql di kepala.[4]

Menurut Imam Al-ghazali didalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin mendefinisikan bahwa akal adalah sumber ilmu, tempat terbit dan dasar ilmu. Ilmu itu berjalan dari padanya seperti jalannya buah dari pohon, cahaya dari matahari, dan penglihatan dari mata.[5]

  1. Fungsi Akal

Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:

  1. Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
  2. Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.
  3. Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.

Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan  Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akal lah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.

  1. Kekuatan Akal

Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:

  1. Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya.
  2. Mengetahui adanya hidup akhirat.
  3. Mengetahui bahwa kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaraan tergantung pada tidak mengenal Tuhan dan pada perbuatan jahat.
  4. Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.
  5. Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
  6. Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Sumber :

https://fgth.uk/