Pembentukan Sperma

Pembentukan Sperma

Bila spermatid pertama kali dibentuk, mereka masih mempunyai sifat umum sel epiteloid, tetapi segera sebagian besar sitoplasmanya menghilang, dan setiap spermatid mulai memanjang menjadi spermatozoa, terdiri atas kepala, leher, badan, dan ekor. Untuk membentuk kepala, zat inti memadat menjadi suatu massa yang padat, dan membrane sel berkontraksi sekitar inti. Ini adalah zat inti yang melakukan fertilisasi ovum (Marieb, 2011).

Di depan kepala sperma terdapat struktur kecil yang dinamakan akrosom, yang dibentuk dari aparatus golgi serta mengandung hialuronidase dan protease yang memegang peranan penting untuk masuknya sperma ke dalam ovum. Sentriol mengelompok pada leher sperma dan mitokondria tersusun berbentuk spiral dalam badan. Yang menonjol ke luar tubuh adalah ekor panjang, yang merupakan pertumbuhan keluar dari salah satu sentriol. Ekor hampir mempunyai struktur yang hampir sama seperti silia. Ekor mengandung dua pasang mikrotubulus yang turun ke tengah dan sembilan mikrotubulus ganda yang tersusun sekitar pinggir. Ekor diliputi oleh perluasan membrane sel, dan mengandung banyak adenosine trifosfat, yang niscaya memberi energi pergerakan ekor. Pada pengeluaran sperma dari saluran genitalis pria ke dalam saluran genitalis wanita, ekor mulai bergerak bolak-balik dan bergerak spiral pada ujungnya, memberikan pendorongan yang menyerupai ular yang menggerakkan sperma ke depan dengan kecepatan maksimum sekitar 20 sentimeter per jam (Marieb, 2011).

2.4         Hormon Pada Sistem Reproduksi Pria

Menurut Syaifuddin (2006), hormon-hormon yang terdapat pada sistem reproduksi pria, yaitu :

  1. FSH

Yaitu hormone yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Hormone FSH ini berfungsi dalam proses pembentukan dan pematangan spermatozoa yang dikenal sebagai spermatogenesis.

FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatoid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi

  1. LH

LH (Luteinizing Hormone) disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testosterone.

  1. Testosteron

Testosteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat diantara tubulus seminiferus. Hormone ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama meiosis untuk membentuk spermatogenesis sekunder.

Dihasilkan oleh sel intertisial yang terletak antara tubulus seminiferus. Sel ini berjumlah sedikit pada bayi dan anak, tetapi banyak terdapat pada pria dewasa. Setelah pubertas, sel intertisial banyak menghasilkan hormone testosterone yang disekresikan oleh testis. Sebagian besar testosterone berikatan longgar dengan protein plasma yang terdapat dalam darah dan sebagian terikat paa jaringan yang dibuahi dalam sel menjadi dehidrasi testosterone. Testosteron yang tidak terikat pada jaringan dengan cepat diubah oleh hati menjadi aldosteron dan dehidroepialdosteron. Konjugasi ini disekresikan dalam usus menjadi empedu ke dalam urin.

Fungsi testosterone adalah sebagai berikut :

  1. Efek desensus (penempatan) testis. Hal ini menunjukkan bahwa testosterone merupakan hal yang penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan manusia dan merupakan factor keturunan.
  2. Perkembangan seks primer dan sekunder :

Sekresi testosterone setelah pubertas menyebabkan penis, testis, dan skrotum membesar sampai usia 20 tahun serta mempengaruhi pertumbuhan sifat seksual sekunder pria mulai pada masa pubertas.

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/05/31/seva-mobil-bekas/