Pedoman Kerja dalam Islam

Pedoman Kerja dalam Islam

Pedoman Kerja dalam Islam

Pedoman Kerja dalam Islam

Islam sebagai sumber kebenaran telah

memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada umatnya untuk bekerja sepanjang yang dikerjakan tidak bertentangan dengan syariah. Syariah lah yang menjadi pedoman dan referensi utama ketika manusia mengerjakan sesuatu baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Allah swt. berfirman, “Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui Yang Gaib dan Yang Nyata, lalu Dia terangkan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. at-Taubah: 105). Maksud perintah Allah swt. supaya manusia bekerja, namun tidak boleh lupa bahwa apapun yang dikerjakan akan dilihat oleh Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin yang bermakna penyaksian dan kelak akan diperhadapkan kembali kepada Allah swt. mengenai apa yang telah dikerjakan. Di sinilah makna penting jawaban manusia terhadap pekerjaan atau amal yang dilaksanakannya.

Berusaha dalam bidang bisnis dan perdagangan termasuk usaha kerja keras. Dalam kerja keras itu, tersembunyi kepuasan batin yang tidak dinikmati oleh profesi lain. Kemauan keras ini dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh- sungguh. Orang-orang yang berhasil atau bangsa yang berhasil ialah bangsa yang mau kerja keras, tahan menderita, tapi berjuan terus memperbaiki nasibnya. Pekerjaan dakwah yang dilakukan oleh Rasul pun mencerminkan kerja keras, sehingga dapat berhasil mendapat kejayaannya. Dalam al-Quran dinyatakan bahwa, “Apabila engkau telah berazam, maka bertakwalah kepada Allah” (Qs. Ali Imran: 159). Kerja keras bukan yang dilakukan pada saat memulai saja, tetapi juga terus dilakukan walaupun kita sudah berhasil.

Sebagai orang muslim kita dituntut agar tidak hanya mementingkan atau mengutamakan kerja keras untuk dunia saja atau akhirat saja, tetapi ditengah-tengah antara keduanya, maksudnya jangan sampai kita dilalaikan oleh pekerjaan mencari harta saja, tapi berusahalah dan selalu dekat kepada Allah swt. seperti dinyatakan dalam al-Quran surat al-Qashas ayat 77,“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Ajaran ini akan menggugah seorang muslim agar mau bekerja keras dalam segala bidang kehidupan, tidak hanya menyerah kepada nasib. Sebelum nasib tiba, kita harus berusaha lebih dulu dengan penuh tawakal kepada Allah. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang apabila orang tersebut tidak berusaha dan tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Jadi intinya ialah inisiatif, motivasi, kreatif, dan akhirnya akan meningkatkan produktivitas guna perbaikan kehidupan. Berusaha dan bekerja keras sangat ditekankan oleh Rasulullah saw., kita tidak boleh berpangku tangan, mengharap rezeki hanya dengan berdoa saja. Berdoa tanpa usaha tidak ada gunanya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab selesai salat menjumpai sekelompok orang yang membenamkan dirinya di masjid, dengan alasan tawakal dan berdoa kepada Allah, maka beliau memperingatkan: “Janganlah sekali-kali di antara kalian ada yang duduk-duduk malas mencari rezeki dan membaca doa Ya Allah limpahkanlah rezeki kepadaku, padahal mereka mengetahui bahwa dari langit tidak akan turun hujan emas dan perak”.

Bahkan, Rasulullah sebagai utusan Allah dan penutup sekalian para Rasul, juga bekerja. Selain berdagang, beliau pernah menggembala kambing. Itu juga bukand kambingnya sendiri, tetapi ia menggembala dengan upah miliki sebagian penduduk Mekah. Diterangkannya hal ini kepada umatnya untuk mengajar mereka, bahwa kebesaran justru dimiliki oleh orang-orang yang suka bekerja, bukan oleh orang yang suka berfoya-foya tetapi menganggur. Al-Quran juga mengkisahkan kepada kita tentang kisah Nabi Musa a.s., bahwa dia pun bekerja sebagai buruh untuk seseorang yang sudah sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun sebagai persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya. Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah firasat puteri orang tua itu, ketika ia mengatakan kepada bapaknya, Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Qs. al-Qashash: 26). Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “bahwaNabi Daud bekerja sebagai tukang besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai penjahit, sedangkan Musa sebagai penggembala kambing” (HR. Hakim).


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/