Inggris Itu Memang Payah

Inggris Itu Memang Payah

Inggris Itu Memang Payah

Inggris Itu Memang Payah
Inggris Itu Memang Payah

ulisan ini bukan mengenai payahnya Inggris di piala dunia. Tulisan ini pengalaman saya merasakan payahnya negara Inggris. Silakan disimak…

Hampir setahun saya dan keluarga menghabiskan waktu di Inggris Raya, terutama Skotlandia. Selama di sini, hanya 4 hal menyenangkan yang berkesan bagi saya:

  1. Pemandangan dan nuansa alam yang indah. Terutama di Skotlandia, alam dan bangunan2 granit. Kalau di Inggrisnya bangunan kuno dan museum. Semuanya terjaga dengan baik.
  2. Belajar di lingkungan internasional, termasuk untuk anak.
  3. Barang dan bahan makanan yang jauh lebih murah dari Jakarta (bahan baku ya, kalau makanan beli jadi rata2 mahal).
  4. Suasananya yang tenang dan tidak ramai. Bahkan stasiun kereta saja bisa sangat senyap, orang lalu-lalang namun tidak ada suara (kecuali turis). Lingkungan perumahan juga senyap.

Sisanya, Inggris itu payah. Bahkan payahnya Inggris ini bukan hanya saya saja yang mengalami. Teman-teman internasional lainnya, dan di bagian Inggris Raya lainnya juga mengalaminya. Jadi bisa dikatakan, Inggris sekarang jauh lebih payah daripada Indonesia. Berikut daftar kepayahan Inggris Raya:

1. Surat

Surat menyurat masih menggunakan pos. Ini contohnya pengiriman tagihan gas, surat penerimaan anak masuk sekolah, tagihan langganan TV. Pernah dulu saya mendapat tagihan gas yang kedua, karena yang pertama saya tidak pernah menerimanya (mungkin ketlingsut di tukang pos, atau terbang ditiup kencangnya angin utara). Untungnya tidak ada denda, saya hanya diminta segera membayar karena sudah hampir 3 minggu belum membayar. 3 minggu belum bayar!!!???

Surat-surat di sini diantar oleh tukang pos, jadi tiap pagi sampai tengah hari akan ada tukang pos atau kurir yang mengantar surat atau paket ke rumah. Biasanya kalau Royal Mail mengantar pagi hari. Kadang pakai mobil merah seperti Postman Pat, kadang pakai gerobak surat dorong warna merah lihat di sini.

Sisi positif dari surat-menyurat ini, sistem administrasi di kantor pos mereka luar biasa teratur, banyak orang masih dipekerjakan, dan budaya surat menyurat bisa dipertahankan dari arus kemajuan jaman. Selain itu, dedikasi pekerjanya tiada henti. Di musim dingin bersalju tebal atau di musim panas yang panas terik, mereka masih aktif mengirim surat. Tapi, kalau dipikir2, kenapa nggak sekalian aja pake merpati atau panah kaya Robin Hood. Pakai surat itu jelas lama komunikasinya, nggak ramah lingkungan karena buang-buang kertas (apalagi kalo surat ketlingsut atau nggak dibaca penerima-misalnya tagihan TV, mereka bisa kirim surat berkali-kali untuk memastikan surat dibaca), dan ada kemungkinan ketlingsut (ini bahasa Indonesianya apa ya). Inilah salah satu penyebab serba lama di UK. Banyak sistem manualnya dan nggak banyak kerjanya (kita bahas di bagian lanjut ya).

2. Beli Listrik Pakai Listrick

Ini yang saya paling sebal, karena listrik pra-bayar diisi ulang pake colokan kaya USB, kita sebut saja listrick (listrik+stick) karena saya nggak tau nama resminya, yang di ujung barang plastik ini ada tembaga (atau entah logam apa itu) kaya sim-card (lihat di sini). Jadi kalau listrik mau habis, saya harus jalan ke toko kelontong terdekat untuk beli listrik (ini penampakan tokonya). Kemudian di toko Adie’s langganan saya ini, listrick itu diisi ulang dengan dicolokkan ke mesin kasir. Habis bayar, saya balik lagi ke flat dan harus colokin listrick ke meteran. Mungkin sistem ini cuma yang pake jasa SSE aja, nggak semua wilayah Inggris pake kaya beginian. Tapi ya tetap saja, barang beginian masih ada looooo…..

Nah, sama seperti sim-card, kalo sering digesek2 (iya gesek2 misalnya dilepas-pasang), lama2 tembaganya bakalan baret. Nah, kalo baret2nya banyak, sama seperti sim-card juga, bakalan nggak kebaca itu listrick. Jadi, kalo udah total eror nggak kebaca, harus pesen baru lagi. Bayangkan, berapa banyak plastik dan tembaga harus dibuang buat sistem konyol kaya gini. Di Indonesia, saya bisa beli listrik sambil tiduran, terus tinggal ketik token di meteran listrik. Emang nggak sesehat jalan kaki ke toko kelontong beli listrik, tapi kalo pas badai salaju, angin utara lagi kencang, atau hujan deras, sangat menyusahkan.

Sisi positifnya, untuk gas mereka sudah mulai (sudah mulai, jadi belum semua ya) pakai smart meter. Sistem ini otomatis kebaca berapa pemakaian kita di kantor pusatnya, tagihan nanti dikirim surat, jadi nggak ada yang dateng ngecek2 ke rumah gas kepakainya berapa.

3. Birokrasi Nggak Jelas & Sistem Calo Secara Legal

Ini saya dan sahabat saya dari Korea yang mengalami. Pengalaman sahabat saya itu saya rasa dialami juga oleh banyak orang lain.

Pertama, sahabat saya itu apply visa untuk anak istrinya. Nah, aplikasi yang pertama ini dia batalin karena ada urusan keluarga, dan keluarganya berhasil nyusul dengan aplikasi kedua. Proses refund super nggak jelas. Setelah hampir sebulan tanpa kejelasan, dia mengajukan enquiry ke home office UK yang ngurusin masalah visa ini. Tiap kali enquiry harus bayar sekitar 5.48 pound visa email. Ini hanya masalah nanya, coba baca artikel dari Guardian berikut, seberapa besar laba Home Office dari mempermainkan visa orang, klik di sini. Ini kutipan dari berita tersebut terkait kalo mau nanya bayar dulu, “In the light of the immense existing visa costs, the introduction of email fees is adding insult to injury and constitutes a dangerous precedent for charging for customer services more broadly.

Kedua, pengalaman saya. Waktu itu dompet istri saya hilang (kelihatannya hilang di taksi), namanya taksi skotlandia, banyak orang Eropa Timurnya, jadi ya kalau hilang bisa nggak balik (terutama kalo bukan rejekinya, kalo rejeki ya bakal balik). Nah, di dompet itu isinya macam2 kartu termasuk BRP anak dan istri saya (BRP itu kartu tinggal sementara, semacam KTP isinya biometrik). Nah, kalau baca di web pemerintah inggris, kalau BRP masih valid lebih dari 3 bulan harus lapor. Kalau nggak lapor kehilangan, bisa kena denda 1000 pound atau dideportasi. Ancamannya seram kan, maka kami lapor. Lapor kehilangan ini bukan hanya lapor, karena harus bayar untuk pembuatan BRP baru dan ngurus dokumen-dokumen yang didownload dari websitenya, lalu dikirim lewat kantor pos terdekat (pos lagi). Bayarnya nggak sedikit, satu kartu sekitar 56 pound (kursnya sekitar 19rb), kami harus bikin 2. Setelah dikirim lewat pos tercatat, kami dapat info dari pos kalau surat sudah diterima. Tapi, kami belum dapat email konfirmasi bahwa surat sudah diterima. Sampai hampir sebulan kemudian. Sebulan. Rata-rata orang bisa mendapat BRP dalam waktu 8 minggu sampai 6 bulan. Tapi tidak ada jaminan kejelasan. Nah, kalau mau lebih jelas, bisa pakai jasa premium, bayarnya hampir 10 kali lipat biaya normal, tapi walaupun jelas, tidak ada jaminan bisa selesai lebih cepat. Nah, kalo kaya gini kan bikin emosi banget kan ya. Maksudnya apaan coba jasa premium itu. Masalahnya, di sini itu nggak bisa komplain. Jangankan komplain, mau nanya aja harus bayar. Malah kalo komplain bisa dipenjara.

Pernah waktu winter cold snap, penerbangan di Heathrow banyak yang tertunda karena salju. Penumpang terlantar di bandara lebih dari sehari, nggak ada kompensasi apapun dan nggak ada pelayanan pelanggan. Jadi bayangkan, konsumen sudah bayar tiket, pengen pulang, nggak dapat kejelasan penerbangan, terkatung-katung di bandara, nggak bisa kemana2 karena nunggu jadwal penerbangan yang bisa sewaktu2, harus keluar biaya lagi buat hidup di bandara dan sudah jelas lelah. Nah, penumpang yang kelelahan dan kecerdasan emosionalnya di ambang batas bawah, sudah pasti komplain ke petugas maskapai. Ketika penumpang komplain, petugas dengan santainya melaporkan ke polisi dengan alasan dia merasa terancam, dan si penumpang capek tadi malah ditangkap oleh polisi. Teman saya yang mau mudik ke negaranya melihat kejadian itu dan heboh di grup kuliah. Nah, ternyata memang di sini orang bisa dipenjara kalau dianggap mengancam (menurut sudut pandang yang terancam), dan ancaman ini sifatnya relatif, makanya harus hati-hati bertutur kata dan bersikap. Saran teman saya dari Afrika, kalau sebal dengan birokrasi koplaknya Inggris ini, jangan komplain. Tidur terlentang di lantai aja, kalo perlu sampe ngorok dan kentut-kentut.

Balik lagi ke BRP, saya dan istri sudah sebal, ini namanya makan uang dari kesialan orang. BRP hilang itu sudah apes, bikin lagi harus bayar, nggak dikerjain sebulan sama kantor yang udah kita bayar. Memang ada orang yang bisa dapet cepet, tapi ada juga yang lama, dan masalahnya bukan di cepet atau lama. Masalahnya di nggak jelasnya. Coba baca kasus-kasus lain yang lebih menyedihkan mengenai BRP ilang di sini.

4. Mogok Kerja Pengajar dan Staf Akademik

Semester lalu, dosen-dosen dan staf akademik di berbagai kampus di seluruh UK melakukan mogok kerja. Penyebabnya, pemerintah mengurangi jatah pensiun mereka. Akibatnya, banyak kampus yang nggak ada perkuliahan. Mahasiswanya disuruh baca bahan online, dan studi mandiri. Karena dosen saya banyak yang praktisi dan nggak kepengaruh pensiun, saya waktu itu masih kuliah sementara kampus sepi. Baca salah satu beritanya di sini. Dalam kasus ini, lagi-lagi, nggak ada layanan untuk konsumen (catat ya, nanti akan ada lagi).

5. Mogok Kerja Pegawai Kereta Api dan Bus

Ini saya mengalami sendiri. Jadi saya nggak peduli mereka mau demo karena pensiun atau karena minta dapet fasilitas pijat, saya sebagai konsumen sangat dirugikan. Pertama, saya pernah bayar tiket duduk dan reservasi tempat duduk (di sini tiket kereta kalau mau reservasi kursi harus bayar lagi), dibatalin jadwal keretanya. Solusi dari Scotrail (nama jasa perkeretaapian), semua penumpang kereta di jadwal saya, naik ke satu-satunya kereta terakhir hari itu. Semua penumpang yang naik akan digratiskan dengan syarat mengirim bukti tiket kereta ke Scotrail. Ini geblek, karena tiket kereta di sini nggak ada nama (di sini identitas dijaga sangat ketat, mungkin itu juga kenapa mereka masih pake pos), dan kirim mengirim tiket itu lamaaaaa.

baca juga