HUBUNGAN ANTARA WAHYU DAN AKAL

 HUBUNGAN ANTARA WAHYU DAN AKAL

Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan. Konsepsi ini dapat digambarkan bahwa Tuhan berdiri dipuncak alam wujud dan manusia di kakinya berusaha dengan akalnya untuk sampai kepada Tuhan. Dan Tuhan sendiri dengan belas kasihan-Nya terhadap kelemahan manusia, diperbandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan. Menolong manusia dengan menurunkan wahyu melalui para Nabi dan para Rasul.

Konsepsi ini merupakan system teologi yang dapat digunakan terhadap aliran-aliran teologi Islam yang berpendapat bahwa akal manusia biasa sampai kepada Tuhan.[7] Yang menjadi persoalan selanjutnya ialah: “sampai di manakah kemampuan akal manusia dalam mengetahui Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia?” Dan juga “sampai manakah besarnya fungsi wahyu dalam kedua hal ini?’’.

Kalau kita selidiki buku-buku klasik tentang Ilmu Kalam akan kita jumpai bahwa persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu ini dihubungkan dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama adalah soal mengetahui Tuhan dan masalah yang kedua soal baik dan jahat. Masalah yang pertama bercabang dua menjadi mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan yang dalam istilah ‘Arab disebut husul ma’rifah Allah dan wujud ma’rifah Allah.[8] Cabang dari masalah yang kedua ialah: mengetahui baik dan jahat, dan kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan kewajiban menjauhi perbuatan jahat atau ma’rifah al-husn wa al-qubh dan wujub I’tinaq al-hasan wa iljinab al-qabih, yang disebut al-tahsin wa al-taqbih.

Jika kamu bertanya : “Bagaimanakah keadaan kaum-kaum dari ahli tasawwuf yang mencela akal dan apa yang digarap akal?”. Maka ketahuilah bahwa sebabnya adalah manusia itu memindahkan nama akal dan apa yang digarap oleh akal kepada sebuah perdebatan dan mendiskusikan pertentangan-pertentangan dan hal-hal yang pasti (lazim), yaitu perbuatan Ilmu Kalam. Mereka tidak mampu untuk menetapkan di sisi mereka bahwa kamu sekalian salah dalam pemberian nama itu karena hal itu tidak terhapus dari hati mereka setelah penguasaan lidah, dan meresap di dalam hati. Lalu mereka mencela akal dan apa yang di garap oleh akal. Yaitu lah akal yang disebut dari sisi mereka.[9]

Sumber :

https://urbanescapesusa.com/