Dampak Globalisasi Ekonomi Terhadap Indonesia

Dampak Globalisasi Ekonomi Terhadap Indonesia

Sejak tahun 1993,OECD sudah memberi sinyal Indonesia akan dirugikan dengan berlakunya liberalisasi perdagangan internasional. Akan tetapi Soeharto sebagai pengusaha Orde Baru yakin sekali dengan prakarsa perdagangan bebas. Akhirnya yang terjadi adalah ramalan OECD tersebut terbukti,yakni indonesia justru menghadapi persaingan baru dari negara-negara maju yang mampu menghasilkan produk dengan kualitas baik dan harga bersaing. Sedang produk Indonesia sulit masuk ke pasar negara maju karena dihambat dengan pencabutan fasilitas kemudahan ekspor yang bernama Generalized system of perfernce. GPS ini merupakan fasilitas yang diberikan oleh Departemen Perdagangan AS kepada sejumlah negara untuk mengurangi dan menghilangkan pajak impor bagi negara yang dianggap berdagang secara “sehat” dengan AS.

            Sejak peristiwa WTC 11 September 2001, AS khususnya melakukan proteksi yang dikemas dengan istilah undang-undang bio-terrorism,iso-labeling,eco-labeling ditambang embargo ekonomi dan sangsi ekonomi. Peristiwa Santa Cruz di Timor Timur (waktu itu) membuat Indonesia diembargo dalam padagan alat militer dan juga perdagangan ekspor Indonesia ke AS. Tekanan paling keras dilakukan AS terhadap negara industri baru di Asia Timur termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan oleh AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan As yang merosot pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini tentu berdampak pada perekonomian nasional karena masuknya produk asing,embargo dan proteksi negara tujuan ekspor khususnya AS menjadikan daya saing produk domestik lemah dan munculnya efek domino karena tutupnya sejumlah industri,yaitu PHK dan pengangguran.

            Perluasan ekspor Indonesia terasa makin berat sejak dicabutnya GPS tahun 2005,belum lagi halangan masuk (entry barrier) yang sengaja diciptakan oleh negara maju. Sehingga ekspor tekstil Indonesia tidak memiliki kuota untuk masuk pasar AS. Didalam negri gempuran produk China terus menerut terjadi,sehingga beberapa industri domestik rontk dan merumahkan karyawannya.

            Globalisasi bukan hanya menggermpur pelaku ekonomi di negara sedang berkembang. Globalisasi mampu mengendalikan demokrasi bahkan bertindak lebih jauh dengan mendikte apa yang harus dilakukan pemenang pemilu yang diselenggarakan secara demokratis sekalipun. Rakyat memang menentukansiapa yang menang dalam pemilihan umum. Namun siapa yang akan duduk di kabinet bisa ditentukan oleh konstituen pasar yang beradai di sentra finansial global.

            Hal diatas bisa terlihat jelas waktu presiden Soerharto kembali menduduki kursi kepresidenan tahun 1996,presiden AS Bill Cliton mengutus Walter Mondale datang ke Indonesia membujuk Soerharto agar sepenuhnya melakukan liberalisasi ekonomi sesuai resep dari IMF. Mondale menunjukan jika Soeharto mengisi kabinetnya dengan menteri yang anti globalisasi makan pasar akan merespon negatif.

Di pasar global Indonesai tidak menghadapi persaingan biasa yang hanya menggantuknan diri pada mekanisme pasar,tetapi Indonesia mengahadapi kekuatan yang terpola. Kekuatan ini bisa membentuk TNCs,MNCs,pemerintahan negara kaya,lembaga dunia seperti IMF,World Bank dan WTO. Indonesia saat ini berada dalam jebakan “Perang modern” yang dimulai dari krisis moneter 1997/1998. (Deliarnov 2006).

  1. Peran World Bank dalam Perekonomian Indonesia

Tiga pulu tahun (1967-1998) dukungan yang telah diberikan oleh Bank Dunia mencapai lebih dari US$ 25M. Porsi terbersar dari pembiayaan tersebut disedot oleh pembanguan infrastruktur yakni sebesar 40%. Sektor pertanian mencapai porsi 19%,sektor pembangunan perkotaan,air bersih dan sanitasi mencapai 10%.

Pada dekade 1980-an,bank dunia mengawali program bantuan untuk merestrukturisai sektor keuangan,selain upaya pemerintahan melakukan deregulasi sektor perbankan pada tahun 1983. Sedangkan selama kurun waktu 1990-1998 perhatian bank dunia tersedot pada maslaha lingkungan hidup. Prasyarat lingkungan hidup dijadikan prasyarat dalam memberikan pinjaman pada Indonesia. Misalnya pinjaman pada sektor pertanian dikaitkan dengan penghutanan kembali (reforestration) yang memang sangat penting untuk dilakukan. Bahkan munculnya UU Lingkungan Hidup dan terbentuknya Bapedal juga tidak lepas dari dukunga Bank dunia.

sumber :

https://imii.co.id/microsoft-excel-apk/