Biografi Abdurrahman Wahid

Biografi Abdurrahman Wahid

Biografi Abdurrahman Wahid

Biografi Abdurrahman Wahid

Abdurrahman “Addakhil”

demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas” (Barton, Greg. 2004:25)
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. (Barton, 2000:26)
Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca Negara tidak liput dari perhatiannya. Disamping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Disamping dikenal sebagai seorang budayawan, Gus Dur juga merupakan aktor politik yang handal, kecerdikan dan kepintaran Abdurrahman Wahid ini nampak dari cara ia berperan sebagai political player, Abdurrahman Wahid benar-benar telah menjadi seorang ad-Dakhil. Tidak mengherankan bila berbagai pengharaan telah diperolehnya. Di antaranya pernah menerima penghargaan sebagai Man of The Year 1990 oleh majalah Editor. Abdurrahman Wahid memperoleh penghargaan Magsaysay dari Philipina, lantaran dinilai telah berhasil memainkan peran penting sebagai integrator bangsa, membangkitkan semangat kerukunan antar umat beragama, dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap demokrasi.
Salim Said dalam Asmawi (1999:155) mengakui bahwa Gus Dur adalah politikus paling ulung. Sejak era 1990-an di Indonesia hanya ada dua politikus sejati, yakni Pak Harto dan Gus Dur. Kini setelah Soeharto tidak lagi terjun dalam politik praktis, tinggal Gus Dur, yang ia anggap politikus paling ulung.
Predikat sebagai political player ulung sebagaimana disebut di atas tentu tidak semuanya sependapat. Mengingat di masyarakat memang ada dikotomi dalam melihat sosok Abdurrahman wahid. Ada yang memandang dengan kagum, sebaliknya ada yang memandang dengan sinisme. Bahkan terkadang lebih dari itu, Abdurrahman wahid tidak jarang dinilai sebagai inkonsisten, sekedar tampil beda, munafik, agen zionis, anggota Partai Ba’ats (Irak), dan sebutan minor lainnya. Dikotomi penilaian ini tidak ada yang salah selama hal itu tetap dalam kerangka yang kritis dan proporsional, dengan selalu berusaha untuk mengedepankan obyektifitas.
Dianalogikan sebuah gunung, maka pendakian terhadapnya Abdurrahman wahid dengan segala manuver dan kontroversinya hendaklah ditempuh dengan banyak jalur. Saran ini tentu saja tidak berlebihan, mengingat tanpa melakukan pendakian dari berbagai jalur, yang akan terjadi adalah bias penglihatan.
Sebagai tokoh yang selalu bersikap kontroversi, ke-anehan dan kevokalannya, dengan selalu mengedepankan watak inklusifisme, dan komitmennya dalam upaya menciptakan budaya yang demokratis, apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid selama ini tanpaknya menelorkan hasil. Pada tingkat internal warga nahdliyin misalnya, sekarang sudah tumbuh budaya keterbukaan (inklusif), budaya untuk saling menghargai, dan toleran (tasamuh) terhadap perbedaan pendapat, perbedaan agama yang memang ciri khas dari sikap kemasyarakatan Nu. Di samping itu tampilnya Gus Dur sebagai mantan PB-NU, telah mengubah lanskap sosiologis yang menempatkan NU dalam kelompok konservatif atau tradisionalis.

Sebelum dipimpin Gus Dur, citra NU yang menonjol adalah sebagai organisasi Islam yang ekslusif dari pengaruh pemikiran kontemporer yang berkembang, konservatif dalam pemahaman keagamaan, dan fundamentalis dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Hanya dalam tiga periode kepemimpinannya, dia berhasil mengubah citra NU menjadi inklusif, modern, dan moderat. Gus Dur juga sangat bersemangat dalam memperjuangkan nilai-nilai demokratis dalam kehidupan politik nasional, sementara kata orang, yang bersangkutan belum tentu demokrat dalam pergaulan sehari-hari. Ini mungkin berkaitan dengan tradisi pesantren, di mana posisi kiai tak dapat diganggu gugat dan tidak biasa dikritik.


Baca Juga :